Oleh : Ida Nuraini
(Sudah diikutsertakan dalam lomba dari penerbit Ayiji)
Ku
berlari menapaki hari demi hari
Berkawan
dengan hitam dan birunya jembatan hidup ini
Dari
selembar kertas putih yang tak kenal cinta
Menjadi
lembaran cantik penuh warna-warni cinta.
Mereka
bak seteguk air jernih
Melepaskan
dahaga di musim keringnya bumi
Allah...
Cinta
pertama dan selamanya dalam hidup ini
Penuh
kasih yang Dia tebarkan setiap hari
Tak
pernah sedetik lengah atau pun pergi
Meski
diri ini terjebak dalam gunung dosa yang meninggi.
Dalam
sujud, ku mengemis cahaya-Nya
Tersungkur
lama bersama air mata
Yang
mewakili sesal atas dosa-dosa.
Cinta-Nya
begitu deras....
Air
mataku tak berkesudahan ikut menderas
Teruntuk
ayah dan ibu...
Dua
malaikat pelindung di istana duniaku.
Benih-benih
kokohnya semangat juangmu
Menghempas
segala sakit hidup yang berliku.
Aliran
sungai air mata yang melewati pipiku
akan
bahagianya memilikimu,
Tak
mampu menandingi
nikmatnya
sedetik bersama dekapanmu.
Teruntuk
guru-guruku tercinta...
Tokoh-tokoh
pahlawan masa depan penuh cita.
Pekikan
lantunan ilmu terus bersambung merdu
Bersama
nasihat bijak yang membuatku terus melaju
Menjemput
prestasi sebagai buah dari tetesan keringatku.
Permadani
kesuksesanku lembab terbasahi hujan air mata
Sebab
jiwaku merasa bahwa bayang wajah-wajah ceria,
juga
tepuk tanganmu hadir sebagai medali bahagia.
Teruntuk
sahabat dan saudaraku...
Bintang-bintang
yang menghiasi sepinya malamku.
Selalu
ada bahu yang kau pinjamkan
Selalu
ada senyum dan tawa dalam gandengan tangan
Membersamai
rajutan kita dalam samudera kehidupan.
Isak
tangisku yang kau sambut dengan pelukan
Menyadarkanku
bahwa sebuah perpisahan
Bukanlah
akhir kata persahabatan,
Justru
ia adalah penguji kesetiaan dan bunga-bunga kerinduan.
Teruntuk
nama yang tertulis di atas daun rahasia Allah...
Teman
sejati, penyempurna agamaku dan pelengkap hidupku.
Mendamba
hadirmu begitu nyata kala sepi menghampiri
Kokohkan
iman pada Ilahi,
Menyabarkan
diri dan teguh pada pilihan hati
Adalah
jembatanku menuju ikatan cinta yang suci.
Dalam
hening malam-Nya, bulir air mata rindu dan harapan
Terus
membasahi tangan yang menadah dalam pejaman.
Mendo’akanmu
adalah caraku merindu dalam penantian.
Allah...
Dan mereka...
Bagai
deretan kilauan cahaya
Yang
menghidupkan hidupku di dunia.
Mereka...
Ku namai ‘cinta dan air mata’
Sebab
dari mereka aku mendapatkan dan memahami cinta...
Sebab
karena mereka, air murni berjatuhan dari mata...
Jakarta, 30 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar