Jumat, 27 Januari 2017

MEREKA BERNAMA ‘CINTA DAN AIR MATA’


Oleh : Ida Nuraini
(Sudah diikutsertakan dalam lomba dari penerbit Ayiji) 

Ku berlari menapaki hari demi hari
Berkawan dengan hitam dan birunya jembatan hidup ini
Dari selembar kertas putih yang tak kenal cinta
Menjadi lembaran cantik penuh warna-warni cinta.
Mereka bak seteguk air jernih
Melepaskan dahaga di musim keringnya bumi

Allah...
Cinta pertama dan selamanya dalam hidup ini
Penuh kasih yang Dia tebarkan setiap hari
Tak pernah sedetik lengah atau pun pergi
Meski diri ini terjebak dalam gunung dosa yang meninggi.
Dalam sujud, ku mengemis cahaya-Nya
Tersungkur lama bersama air mata
Yang mewakili sesal atas dosa-dosa.
Cinta-Nya begitu deras....
Air mataku tak berkesudahan ikut menderas

Teruntuk ayah dan ibu...
Dua malaikat pelindung di istana duniaku.
Benih-benih kokohnya semangat juangmu
Menghempas segala sakit hidup yang berliku.
Aliran sungai air mata yang melewati pipiku
akan bahagianya memilikimu,
Tak mampu menandingi
nikmatnya sedetik bersama dekapanmu.

Teruntuk guru-guruku tercinta...
Tokoh-tokoh pahlawan masa depan penuh cita.
Pekikan lantunan ilmu terus bersambung merdu
Bersama nasihat bijak yang membuatku terus melaju
Menjemput prestasi sebagai buah dari tetesan keringatku.
Permadani kesuksesanku lembab terbasahi hujan air mata
Sebab jiwaku merasa bahwa bayang wajah-wajah ceria,
juga tepuk tanganmu hadir sebagai medali bahagia.

Teruntuk sahabat dan saudaraku...
Bintang-bintang yang menghiasi sepinya malamku.
Selalu ada bahu yang kau pinjamkan
Selalu ada senyum dan tawa dalam gandengan tangan
Membersamai rajutan kita dalam samudera kehidupan.
Isak tangisku yang kau sambut dengan pelukan
Menyadarkanku bahwa sebuah perpisahan
Bukanlah akhir kata persahabatan,
Justru ia adalah penguji kesetiaan dan bunga-bunga kerinduan.

Teruntuk nama yang tertulis di atas daun rahasia Allah...
Teman sejati, penyempurna agamaku dan pelengkap hidupku.
Mendamba hadirmu begitu nyata kala sepi menghampiri
Kokohkan iman pada Ilahi,
Menyabarkan diri dan teguh pada pilihan hati
Adalah jembatanku menuju ikatan cinta yang suci.
Dalam hening malam-Nya, bulir air mata rindu dan harapan
Terus membasahi tangan yang menadah dalam pejaman.
Mendo’akanmu adalah caraku merindu dalam penantian.

Allah... Dan mereka...
Bagai deretan kilauan cahaya
Yang menghidupkan hidupku di dunia.
Mereka... Ku namai ‘cinta dan air mata’
Sebab dari mereka aku mendapatkan dan memahami cinta...
Sebab karena mereka, air murni berjatuhan dari mata...

Jakarta, 30 Januari 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar